Tantangan dari
kakek di Ramadhan
Teuk..teuk..teuk..teuk,
suara mesin jahit berbunyi merdu. Tiba-tiba, serggghhhh kendali mesin berbalik
arah. Untung belum aku pasang benangnya, kalau tidak sudah patah jarumnya. Ah,ternyata
belajar menjahit tidak semudah yang aku fikirkan. Aku mencoba lagi memutar roda
mesin yang ada di hadapanku, lagi-lagi serggghhhh sergggghhhh.. Huh! “Bek pakek
teunaga bak aki, lheuh puta nyoe aki ikot aju,,” seru kakek dari arah belakang
sambil menunjuk roda mesin saat mengajariku. Aku mulai mencoba saran kakek. Teuk..teuk..serggghhh..serggghhh..
kakiku tetap saja minta ikut mengendalikan mesin, padahal aku sudah berusaha
menahan. Tapi ternyata aku salah, menahan dengan kaki justru membuat laju mesin
berbalik arah. Aku menunduk lemas.
“Bit bangai!”, gerutuk kakek mengagetkanku. Bagaimana aku tidak
kaget, kata-kata itu keluar dari mulut kakekku. Kakek yang selama ini
menyayangiku sebagai cucu pertama melebihi dari cucu yang lain. Kata-kata itu
masuk melalui telingaku menelusuri relung hatiku yang paling dalam dan tap! Menancap
kuat di hatiku. Sakit.. banget! Kakek berlalu menuju mesjid hendak menunaikan
shalat isya’. Aku masih saja terdiam seribu bahasa. Perlahan tapi pasti aku
mencoba bangkit, melupakan kata-kata itu dan melanjutkan belajar. Aku akan
berusaha terus dan membuktikan pada kakek kalau aku juga bisa menjahit seperti
nenek dan bundaku. “Jangan panggil aku cucumu kek, kalau aku tidak lulus
tantangan ini.” Isakku dalam hati.
Bunda menghampiriku dan mengajak aku pulang. “Usi masih mau
malanjutkan bun, bentar lagi ya bun.” Bujukku pada bunda. “Nanti kemalaman
bunda gak berani pulang lagi, kalau masih mau belajar besok-besok ke tempat
nenek lagi.” Sahut bunda sambil bersiap-siap pulang. Baiklah, aku turuti kata
bunda. Setelah pamit sama nenek, kami pulang.
Di perjalanan, pikiranku melayang ke sana kemari. Aku memikirkan
tentang diriku. Terkadang aku merasa bukan apa-apa di antara siapa-siapa, aku
merasa beda dari orang lain. Setiap orang mempunyai keahlian di bidang apa
saja, meskipun ada satu bidang keahliannya. Tapi aku, tak bisa apa-apa. Jadi
bingung, sebenarnya aku mempunyai kelebihan apa?! Kata orang aku pintar masak
karena jari-jariku lentik, tapi menurutku itu mitos. Aku sudah membuktikannya
kok, tapi tetap aja selalu ada yang kurang dan lebih, masih gak jelas rasanya.
Okeh! Ramadhan kali ini aku akan semangat belajar mengendalikan
mesin jahit. Aku harus bisa menghasilkan karya. Aku akan pindah ke rumah nenek
selama dua minggu, untuk menyelesaikan tantangan ini. Aku harus membuktikan
pada kakek, nenek dan bundaku bahwa aku apa-apa di antara siapa-siapa.
Kisah pilu di
Ramadhan
Ramadhan kali ini beda… banget! Ya, terasa beda bagi orang tua
angkatku di Bener Meriah, saudara-saudara kita di Gayo, Mesir, Suriah dan
Palestine. Setelah diguncang gempa beberapa waktu lalu di Gayo dan sekitarnya,
yang meninggalkan duka mendalam bagi saudara kita di sana. Mereka menikmati
sahur dan berbuka di tenda-tenda pengungsian, dengan perlengkapan dan
penerangan seadanya, makananpun terasa pahit ketika dikunyah. Berada di bawah
tenda ditemani udara dingin yang menggigit, menambah penderitaan anak-anak tak
berdosa. Selimut tetap menjadi sahabat setia dalam duka dan air mata.
Berlanjut ke Mesir, Suriah dan Palestine. Aku tak bisa
berkata-kata. Lidahku kelu. Aku membayangkan perilaku masyarakat jahiliyyah
dalam shirah nabawiyyah yang begitu biadab. Pantas saja perintah dakwah
turun di bagian Arab dan sekitarnya. Kelakuan yang terlaknat mereka masih turun
temurun sampai akhir zaman. Do’a terus terucap dari hati di penghabisan
sujud-sujudku. Aku ingin Allah menurunkan kekuasaannya di ramadhan kali ini
untuk mereka yang teraniaya.
Kawan-kawan, hanya do’a do’a dan do’a senjata tanpa peluru tapi
dahsyat yang bisa kita iringi hari ini untuk mereka. Bagaimana mungkin kita bisa sahur dan buka
puasa dengan nikmat dengan kondisi saudara kita di sana. Lidah mereka pahit juga
lidah kita. Minimal sekali kita mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Allah
hari ini!